A Taste of an Old Choice
Satu hari di tahun 2004. What a red letter day, kata Freddy Mercury, the postman delivered a letter from my lover… (eh, jadi ngaco…) maksudnya, a letter from AusAID. Amplopnya tebal. Isinya? Dua buku panduan universitas di Australia. Sepucuk surat dari official-nya AusAID, congratulations, katanya, udah terpilih jadi scholarship awardee. Makasiiiihhh… Hanya selang beberapa hari, official-nya JICE telepon, congratulation, udah diterima di ODA scholarship, katanya… Makasiiiihh lagi….
Tapi setelah beberapa pertimbangan, baik personal maupun profesional, the winner was… Waseda University. I kissed goodbye to Melbourne Uni and Monash (the top two candidates in my list), and took the flight to Tokyo, saya masih ingat flight number-nya: JAL 726. Dan walaupun saya nggak pernah menyesal dengan keputusan itu, kadang-kadang tergelitik juga untuk berpikir, apa ya yang terjadi seandainya saya memutuskan sekolah ke Melbourne saat itu?
Jadi, karena sekarang saya di Melbourne, boleh dong saya mencicipi sedikit potongan kehidupan yang pernah saya lewatkan. Nggak banyak waktu yang tersisa setelah pulang kerja (iya, ini official duty, bukan jalan-jalan hura-hura seperti biasa…), tapi untungnya masih bisa curi-curi kesempatan melihat-lihat kota dengan mengambil rute yang berbeda setiap hari. Kotanya cantik. Teratur, rapi, bersih. Selama di Melbourne, saya jadi kecanduan kopi. Mungkin karena udara dingin, atau karena saya ikutan latah dengan gaya orang-orang di sana yang pada jalan-jalan sambil menyeruput kopi panas. Tapi, ternyata enak juga, menikmati kota dengan secangkir kopi di tangan.
Apartemen tempat saya tinggal (kebetulan saya dapat satu apartemen sendiri) betul-betul seperti apartemen impian saya: nggak terlalu besar, minimalis, dengan sofa nyaman di depan TV. Dan… ranjang besar tempat saya bisa tidur dengan posisi diagonal… (kalau tidur sendiri di ranjang besar, saya suka membayangkan ada makhluk seram yang tiba-tiba berbaring di samping saya…. hiiii… makanya posisi diagonal paling OK, leave no space for no one…). Saya jadi menghitung-hitung lagi apa tabungan saya sudah cukup banyak (atau nyali saya sudah cukup nekat) untuk punya apartemen di Jakarta… (kayaknya nggak dulu deh, mengingat saya belum punya alasan untuk hidup settle di satu tempat…).
In short, saya suka kota ini. Auranya beda dengan Sydney, yang notabene lebih besar. Mungkin saya akan betah juga kalau sekolah disini untuk beberapa tahun. Yang jelas, saya nggak mau kerja part-time (no matter what people say about the salary). Saya mau menikmati hidup nyaman di kota yang nyaman. Sepulang dari sekolah, toh saya akan kerja lagi dan lagi dan lagi…
Satu pertanyaan paling konyol tapi juga paling menggoda, seandainya saya dulu memilih Melbourne, apakah sekarang status saya di friendster masih akan 29, single? Hehehe… papa tersayang pernah bilang, apapun yang saya pilih, itulah pilihan terbaik. Saya setuju. Jadi untuk saat ini, hari ini, saya menikmati kota ini. Nggak berandai-andai dengan kemungkinan pilihan di masa lalu. Saya sudah memilih yang terbaik. Even if I had the chance to turn back the time, I would’ve made the same choice anyway…
Melbourne, June 23, 2008
Some things are meant to be, some things are not.
(For a little secret I discovered, somewhere between Indonesia and Australia: that I can be a bloody good *********** — at least, in my opinion :-P).